Jalan yang dulu ku lalui belum ku lupa,
Setiap jengkal bebatuan ku tau persis masih seperti yang dulu, bahkan angin dan air tak sempat menggelindingkannya kekiri dan kekanan.
Bunga yang dulu pernah ku petik masih membekas patah kecil di tangkainya.
Kembali ku ingat dengan siapa aku melangkah dan untuk siapa ku petik bunga itu,
Ingin aku bertanya pada rumput yang masih pipih karna pijakan kaki kami,
Tentang seseorang yang pernah ku pegang tangannya dan ku remas,
Namun rumput tak mampu menjawab karna selama ini dia terus berusaha berdiri dari pijakan ku dulu.
Untung,
pedagang kaki lima yang pernah ku sapa dulu menjawab dengan pertanyaannya.
"Hai nak! di mana Ibumu yang memiliki bunga indah di sudut kerudungnya itu?"
Pedagang itu mengingatkan ku dengan sosok wanita yang memang tidak pernah aku lupakan,
Dan satu hal yang tidak aku ceritakan kepada pedagang kaki lima itu, bahwa bunga yang indah itu bukan di kerudung Ibu ku,
Tapi tepat di Hatinya,
tak bersudut dan tak bertepi.
Pasti bukan persegi, lingkaran atau segitiga.